LADUNIID, Jakarta - Imam Malik (Guru Imam Syafi'i) dalam majelis pernah menyampaikan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki. "Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya"
– IMAM Malik Guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.” Imam Syafii bertanya, “Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?”. Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Beliau juga membantu mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya. Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, ”Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar perkataan Imam Syafi’i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, “Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya.” Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.* 2830 NOAK.ID, - IMAM Malik (Guru Imam Syafi'i) berkata, "Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya." Imam Syafii bertanya, "Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?".
Perbedaan pendapat antara dua ulama merupakan hal yang amat wajar di dalam Islam. Dalam Tetes-Tetes Kesturi Aulia, tertulis kisah bagaimana kebijaksanaan dua pendiri mazhab mengeluarkan opininya masing-masing dengan tetap menjaga adab. Dalam satu majelis ilmu, Imam Malik yang merupakan guru Imam Syafii mengatakan jika rezeki itu datang tanpa sebab. Guru Imam Syafii itu menjelaskan jika cukuplah seseorang bertawakal dengan benar. Niscaya Allah akan memberinya rezeki. Imam Malik menyandarkan pendapatnya itu kepada sebuah hadis Rasulullah SAW”Andai kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” Namun, pendapat yang berbeda disampaikan Imam Syafii. Dia mengungkapkan pendapatnya kepada sang guru.”Wahai imam, seandainya sang guru tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” tanya as-Syafii. Dalam pertanyaan itu, Imam Syafii menyiratkan jika untuk mendapatkan rezeki itu butuh usaha dan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri tetapi harus dicari dan didapatkan melalui ikhtiar. Baca juga Bolehkah Muslim Melakukan Meditasi? Dua pendiri mazhab itu bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Hingga satu saat, saat Imam Syafii berjalan-jalan, dia bertemu dengan serombongan orang sedang memanen buah anggur. Sang imam pun ikut membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, sang imam mendapatkan beberapa ikat buah anggur sebagai imbalan jasa dari pekerjaannya membantu para petani. Imam Syafii amat senang. Dia gembira bukan karena mendapatkan beberapa ikat anggur. Namun dia telah memperoleh bukti yang bisa digunakan sebagai alasan untuk disampaikan kepada Imam Malik jika pendapatnya itu benar. Rezeki harus dicari. Dengan bergegas, Imam Syafii pun menemui Imam Malik yang sedang duduk santai. Sambil meletakkan seluruh anggur yang didapatkannya, Imam Syafii berkata mengenai pengalamannya tersebut. “Seandainya saya tidak pernah keluar untuk memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar dalil muridnya, Imam Malik hanya tersenyum. Dia mengambil anggur itu dan mencicipinya. Dia pun berucap pelan, “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru dan sedikit berpikir jika alangkah nikmatnya dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawa beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga menjadi bagian rezeki yang datang tanpa sebab?Lakukan yang menjadi bagianmu. Selanjutnya biarkan Allah yang mengurusnya.” Imam Syafii langsung tertawa mendengar penjelasan tersebut. Kedua guru dan murid itu tertawa bersama meski mengambil dua hukum yang berbeda dari hadis yang sama. Baca juga Munarman Siap Bantu Demokrat Kubu AHY BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Ceritabermula ketika dalam sebuah majelis ilmu, Imam Maliki yang merupakan guru dari Imam Syafii mengatakan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikannnya rezeki.
IMAM Malik Guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.” Imam Syafii bertanya, “Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?”. Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Beliau juga membantu mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya. Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, ”Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar perkataan Imam Syafi’i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, “Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya.” Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*
ImamSyafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur. Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru.

Ilustrasi Burung mencari rezeki untuk menafkahi anaknya. Jakarta, Muslim Obsession – Meski meyakini bahwa urusan rezeki merupakan hal yang pasti dari Allah Azza wa Jalla, namun kebanyakan orang masih gelisah memikirkannya. Utamanya, bagaimana cara untuk mendapatkan rezeki tersebut. Hal demikian, rupanya pernah juga menjadi perdebatan Imam Maliki dan Imam Syafii yang merupakan guru dan murid. Cerita bermula ketika dalam sebuah majelis ilmu, Imam Maliki yang merupakan guru dari Imam Syafii mengatakan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikannnya rezeki. “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” demikian kira-kira pendapat Imam Malik. Imam Malik menyandarkan pendapatnya itu berdasarkan sebuah hadirs لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang,” HR. Ahmad. Menanggapi hal itu, Imam Syafii yang rupanya memiliki pandangan lain. Ia pun segera melayangkan pendapatnya. “Ya Syaikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” kata Imam Syafii. Melalui pengandaian tadi Imam Syafii menyampaikan pendapat bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri, melainkan harus dicari lalui didapatkan melalui sebuah usaha. Hingga titik itu, guru dan murid tersebut bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing. Hingga suatu ketika, saat Imam Syafii berjalan-jalan, ia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Ia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii senang bukan main. Ia senang bukan karena mendapatkan anggur. Ia senang karena memiliki cara untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pendapatnya soal memperoleh rezeki itu benar. “Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana mungkin mereka akan mendapat rezeki? Seandainya saya tak membantu memanen, niscaya saya tidak akan mendapatkan anggur”. Dengan bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, Imam Syafii bercerita seraya sedikit mengeraskan bagian kalimat, “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan. “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.” Imam Syafii langsung tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam madzhab tersebut mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama. Sejatinya, Imam Malik dan Imam Syafii mengajarkan kepada umat Islam, khususnya para ulama, bagaimana menyikapi sebuah perbedaan. Keduanya tak saling menyalahkan lalu membenarkan pendapatnya sendiri. Islam dibangun atas ukhuwah yang menghormati perbedaan namun tetap saling berkasih-sayang. Wallahu A’lam.

Bagikan IMAM Malik (Guru Imam Syafi'i) berkata, "Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya."
Ilustrasi kisah imam malik dan imam syafii Kisah Inspirasi – Imam Maliki, memiliki nama lengkap adalah Malik bin Anas bin Malik bin Amr al-Asbahi atau Malik bin Anas. Beliau lahir di Madinah al-Munawwarah pada tahun 714 M atau 93H, dan meninggal pada tahun 800M atau 179H. Malik bin Anas adalah seorang Imam Besar dan sekaligus ilmuwan muslim pakar ilmu fikih dan hadis, serta pendiri Mazhab Maliki. Salah satu murid Imam Malik adalah Imam Syafi’i. Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi’i, lahir pada tahun 767 Masehi dan wafat pada 820 Masehi. Muhammad ibn Idris dikenal dengan imam as-Syafi’i dan pendiri madzhab Syafi’iy. Keduanya sama-sama merupakan Imam besar dan ilmuwan muslim yang sangat terkenal di zamannya. Pada suatu hari, terjadi pembicaraan yang cukup alot antara Imam Malik dengan Imam Syafi’i, mereka berdebat mengenai rezeki. Imam Malik berpendapat bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah swt akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah swt mengurus lainnya”. Allah swt telah menetapkan rezeki pada masing-masing hambaNya. Rezeki itu tidak mungkin tertukar. Andai seorang hamba tidak bekerja sekalipun, rezeki itu akan tetap. Demikian ungkapan Imam Malik. Imam Syafi’i memiliki pendapat berbeda. Menurutnya, reseki itu harus diusahakan. Itu juga bagian dari takdir Tuhan yang Maha Kuasa. “Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki makanan?”. Kata Imam Syafi’i memberikan perumpamaan. Guru dan murid itu tetap bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Hingga suatu ketika, Imam Syafii keluar berjalan dan melihat serombongan orang petani tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii sangat gembira, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur. Imam Syafi’i bergegas menjumpai Gurunya Imam Malik. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, beliau bercerita,Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat, “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya”. Mendengar itu Gurunya Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan. “Sehari ini aku memang tidak keluar, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur segar untukku.” “Saya tak bekerja seperti burung dalam contoh tadi. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.” Tambah Imam Malik Guru dan murid itu saling pandang lalu kemudian tertawa. Dua Imam Mazhab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadis yang sama. Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya.
ImamMalik berpendapat bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah swt akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah swt mengurus lainnya". Allah swt telah menetapkan rezeki pada masing-masing hambaNya. Rezeki itu tidak mungkin tertukar.

OLEH HASANUL RIZQA Setiap Muslim pasti meyakini, rezeki berasal dari Allah SWT. Namun, jalan memperoleh rezeki adakalanya menjadi perdebatan di kalangan alim ulama. Sebagai contoh, perselisihan pendapat antara guru dan murid, Imam Malik 711 M-795 M dan Imam Syafii 767 M-820 M. Imam Malik bin Anas yang merupakan guru Imam Syafii berpandangan, rezeki datang kepada setiap makhluk-Nya tanpa sebab-akibat. Dalam arti, seseorang cukup berpasrah diri atau tawakal secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala. Dengan kehendak-Nya, Allah akan memberikan rezeki kepada orang tersebut. Pendiri mazhab fikih Maliki itu mendasarkan pendapatnya pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang keluar pada pagi dalam keadaan lapar, dan kembali pada sore dalam keadaan kenyang” HR Tirmidzi. “Bertawakal-lah kepada Allah, lakukan apa yang menjadi bagian kita,” kata Imam Malik dalam sebuah majelis. Sementara itu, Imam Syafii memiliki pandangan yang berbeda. Murid Imam Malik itu menilai, ikhtiar atau upaya jangan sampai dinafikan. Saat sang guru menjelaskan perihal hadis tersebut, ia menimpali, “Wahai syekh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan memperoleh rezeki dari Allah?” Manusia lebih mulia daripada burung ataupun hewan lainnya. Sebab, Allah menganugerahkan kepadanya akal dan pikiran. Maka dari itu, lanjut sang pendiri mazhab fikih Syafii itu, untuk mendapatkan rezeki pun seseorang memerlukan kerja keras. Singkatnya, rezeki tidak datang sendiri. Manusia harus mencarinya melalui suatu usaha. Dialog di majelis itu berlalu. Beberapa hari kemudian, di suatu daerah Imam Syafii melihat rombongan kafilah petani. Mereka bergerak ke sebuah kebun anggur. Rupanya, musim panen sudah tiba. Imam Syafii tak hanya mengamati. Ia lantas mendekati seseorang dari rombongan tersebut untuk menawarkan jasanya. Setelah bernegosiasi dengan pemilik kebun, disepakatilah bahwa dirinya mendapatkan seikat anggur sebagai upah pekerjaannya. Dalam hatinya, Imam Syafii bersyukur kepada Allah SWT. Utamanya bukan karena mendapatkan pekerjaan “dadakan” itu. Sebab, dengan upah yang nanti didapatkannya ia dapat membuktikan kebenaran argumentasinya di hadapan sang syekh, Imam Malik. Beberapa jam berlalu, proses panen pun tuntas dikerjakan. Sesuai yang dijanjikan, Imam Syafii memperoleh seikat anggur dari si pemilik kebun. Setelah menghaturkan terima kasih, ia pun berjalan pulang ke kotanya. Ia segera menjumpai Imam Malik yang kelihatannya baru saja keluar dari majelis ilmu. Gurunya itu tampak sedang duduk santai, menikmati udara sore. Setelah mengucapkan salam, Imam Syafii pun menuturkan pengalamannya. Ia lalu memberikan seikat anggur itu kepada sang guru, seraya mengatakan, “Wahai syekh, seandainya saya tidak keluar rumah, berjalan ke daerah itu, dan ikut membantu para pekerja memanen kebun anggur, tentu saja seikat anggur ini tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Sambil menerima buah nan segar itu, Imam Malik pun berkata pelan, “Seharian ini aku di dalam madrasah saja, tidak ke mana-mana. Sesudah mengajar, pikir-pikir ah, alangkah nikmatnya jika di hari yang terik ini aku bisa memakan anggur.’ Tiba-tiba, engkau datang kemari sambil memberikan seikat anggur ini untukku.” “Bukankah ini berarti rezeki yang datang tanpa sebab? Aku cukup bertawakal kepada Allah, selanjutnya biar Allah yang membukakan jalan untukku,” sambung Imam Malik. Mendengar itu, Imam Syafii seketika tertawa. Begitu pula dengan gurunya. Demikianlah, akhlak kalangan alim ulama dalam menyikapi perbedaan ikhtilaf. Masing-masing mengutamakan adab, jauh dari sifat saling menyalahkan. Tidak ada tendensi untuk membenarkan diri sendiri, termasuk dalam soal menyikapi rezeki. Masih terkait rezeki, dalam kitab Anta wa al-Maal 2003 disebutkan tentang dua pendekatan yakni asbaab maaddiyyah dan asbaab diniyyah. Yang pertama berarti terukur’. Maknanya, rezeki datang secara material melalui bekerja, usaha, ataupun ikhtiar. Sebab, Islam mengajarkan umatnya agar memiliki etos kerja. Jauhi sifat malas apalagi frustrasi sehingga terkesan “mengemis” belas kasihan orang lain. Dalam surah al-Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah bekerjalah di segala penjurunya dan makanlah sebahagiaan dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan.” Sebagai gambaran, Allah Ta’ala juga menyuruh kaum Muslimin untuk mencari rezeki dan berkah-Nya sesudah mereka melaksanakan kewajiban ritual, semisal shalat Jumat. Dalam surah al-Jumu’ah ayat 10, dijelaskan, “Apabila telah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah dengan ingat yang banyak, agar kalian mendapatkan kebahagiaan.” Sementara itu, asbaab diniyyah adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan perilaku keagamaan individu maupun kolektif. Tidak hanya ibadah yang bersifat vertikal habluminallah, tetapi juga horizontal habluminannas, semisal zakat, infak, atau sedekah. Sebab, ketaatan kepada Allah Ta’ala akan mengundang rezeki yang penuh keberkahan. Hal itu disinggung dalam surah at-Tholaq ayat 2-3. Artinya, “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Kepadasang guru, Imam Syafi'i mengajukan pendapatnya, "Wahai Syekh, andai kata seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan memeroleh rezeki?" Dalam kesimpulan Imam Syafi'i, untuk mendapatkan rezeki diperlukan usaha dan kerja keras. Tidak bisa dengan hanya bertawakal, karena rezeki tak akan datang dengan sendirinya. Muslimahdaily - Dikisahkan, Imam Malik yang merupkan guru dari Imam Syafi’i tengah berada di majelisnya. Selayaknya guru dan murid, keduanya sering kali menyampaikan pendapat hingga berdebat. Pada suatu hari, Imam Malik menyampaikan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Ia dapat datang tanpa sebab dan manusia cukup bertawakkal dengan benar, lalu Allah akan memberinya rezeki. “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” ujar Imam Malik. Bukan tanpa landasan, pendapat Imam Malik tersebut berdasarkan hadits Rasulullah berikut ini. “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” HR. Ahmad. Namun ternyata Imam Syafi’i memiliki pendapat lain. Menurutnya seandainya burung tersebut tidak keluar dari sangkar niscaya ia tidak akan mendapat rezeki. Baginya, untuk mendapat rezeki, dibutuhkan usaha dan kerja keras. Bukan datang sendiri, tapi harus dicari. “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” demikian sanggahan Imam Syafi’i. Keduanya tetap pada pendapat masing-masing. Tapi tak nampak rasa kesal dan benci satu sama lain karena perbedaan pandangan tersebut. Hingga pada suatu hari, Imam Syafi’i berjalan-jalan, ia melihat sekelompok orang tengah memanen buah anggur. Tanpa diminta, Imam Syafi’i berinisiatif membantu mereka. Setelah selesai, ia diberikan beberapa ikat anggur sebagai imbalan. Kejadian ini mengingatkan Imam Syafi’i tentang pendapatnya seputar rezeki. Pendapatnya terbukti dengan dirinya yang berinisitif membantu sekelompok orang tadi. Jika ia tidak berusaha membantu, tentu ia tidak akan mendapat beberapa ikat anggur. Imam Syafi’i senang bukan main. Ia lantas berbegas menemui sang guru. Hendak membenarkan pendapatnya tersebut. Kemudian dijumpainya Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, ia menceritakan kisahnya barusan. “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya,” ujar Imam Syafi’i. Mendengar ujaran tersebut, Imam Malik hanya tersenyum. Ia kemudian menimpali, “Seharian ini aku tidak keluar pondok dan hanya mengambil tugas sebagau guru, dan sedikit membayangkan alangkah nikmatnya jika di hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawa anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?” “Cukuplah dengan tawakka; yang benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya,” tambah Imam Malik. Keduanya lantas tertawa bersama. Masing-masing Imam Malik dan Imam Syafi’i dapat membuktikan pendapatnya. Tentu tak pernah ada dendam ataupun saling menyalahkan di antara keduanya. Baik Imam Malik maupun Imam Syafi’i masih tetap pada pendapatnya namun tetap menerima pandangan satu sama lain. Akhirnya kedua imam mulia ini mengambil hukum yang berbeda dengan hadits yang sama. Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa berbeda pendapat kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Namun hendaknya kita dapat menyikapi dengan biijak tanpa harus menyalahkan lainnya.

KALBARTERKINI - Dua orang imam umat Islam yakni Imam Malik dan Imam Syafii punya pemahaman berbeda tentang rezeki. Sebagaimana manusia pada umumnya, keduanya juga memiliki pendapatan tentang rezeki yang Allah SWT berikan kepada manusia.. Berikut, kisah diskusi keduanya dilansir berbagai sumber.

Imam_Malik_RA Guru Imam Syafi’i RA Beliau berkata, Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya. Imam_Syafii_RA Murid Imam Maliki RA Beliau berkata Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki. Guru dan murid itu tetap bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii RA keluar berjalan dan melihat serombongan orang petani tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur. Imam Syafi’i RA bergegas menjumpai Gurunya Imam Malik RA. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, beliau bercerita,Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Mendengar itu Gurunya Imam Malik RA tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan, “Sehari ini aku memang tidak keluar, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur segar untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.” Guru dan murid itu kemudian saling tertawa. Dua Imam Mazhab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama. Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja. Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua. INSYA ALLAH BERKAH BERMANFAAT DUNIA AKHIRAT. Sumber FB Ustaz Dr Zareef AL HaQQy 07/08/2020 - Posted by Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah No comments yet.
\n \n kisah imam syafii dan imam malik tentang rezeki
E5sAQ5L.
  • lm59lyefbu.pages.dev/5
  • lm59lyefbu.pages.dev/394
  • lm59lyefbu.pages.dev/429
  • lm59lyefbu.pages.dev/91
  • lm59lyefbu.pages.dev/74
  • lm59lyefbu.pages.dev/400
  • lm59lyefbu.pages.dev/370
  • lm59lyefbu.pages.dev/130
  • kisah imam syafii dan imam malik tentang rezeki